8.1.13

AKUNTANSI INFLASI (TUGAS TA)


AKUNTANSI INFLASI

PENDAHULUAN
            Akuntansi konvensional cenderung menggunakan nilai nominal yang konstan. Nilai yang tercantum di dalam laporan keuangan merupakan nilai perolehan yang dari tahun ke tahun nilainya sama. Sedangkan pada keadaan yang sebenarnya, terjadi perubahan nilai uang. Sehingga angka yang disajikan dalam laporan keuangan akan terjadi overestimate. Untuk itu perlu diterapkan akuntansi inflasi. Akuntansi inflasi adalah cara untuk menyesuaikan  nilai yang ada di dalam laporan keuangan dengan indeks harga.

PENGERTIAN INFLASI
Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat atau adanya ketidak lancaran distribusi barang. Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang  secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-mempengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang  yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga.

AKUN TANSI INFLASI
Menurut Drs. Ainun Na’im, Ak, pengertian Akuntansi Inflasi adalah sebagai berikut :
“merupakan suatu proses data akuntansi untuk menghasilkan informasi yang telah memperhitungkan perubahan-perubahan tingkat perubahan harga, sehingga informasi yang menunjukkan ukuran satuan mata uang dengan tingkat harga yang berlaku.” Tujuan dari Akuntansi Inflasi adalah :
Untuk mengukur kinerja suatu perusahaan dan memungkinkan setiap orang yang tertarik untuk mengukur jumlah,waktu,dan kemungkinan arus kas masa depan.
Akuntansi Inflasi merupakan sutu metode untuk mengkoreksi,dengan menyatakan kembali sepenuhnya laporan keuangan berdasarkan harga perolehan historis kedalam suatu cara yang mencerminkan perubahan daya beli mata uang yang diukur dengan menggunakan angka indeks.akuntansi inflasi bukan sebagai pengganti akuntansi konvensional yang telah ada,namun merupajan informasi tambahan bagi para pemakainya.
Dalam akuntansi inflasi, yang perlu diperhatikan adalah perbedaan indeks harga umum dan indeks harga spesifik. Indeks harga umum adalah peningkatan harga secara umum. Dimana harga barang-barang naik secara keseluruhan. Sedangkan indeks harga spesifik adalah perubahan harga secara spesifik atau khusus. Indeks harga spesifik terjadi karena adanya perubahan selera dan teknologi. Sedangkan akuntansi iflasi terjadi karena adanya perubahan harga umum, bukan karena harga khusus. Misalnya perubahan harga computer naik karena adanya perubahan teknologi atau teknologi  yang ada di dalam suatu computer tersebut semakin maju, hal ini yang dimaksud dengan perubahan harga spesifik. Hal ini bukan merupakan akuntansi inflasi. Lain halnya apabila harga computer naik tetapi tidak ada perubahan atau kemajuan teknologi atau peningkatan selera, maka inilah yang dimaksud dengan perubahan harga umum. Hal inilah yang dimaksud dengan inflasi.
Selain memperhatikan indeks harga umum dan spesifik, yang perlu diperhatikan adalah atribut pengukuran atau penilaian dengan skala pengukuran. Atribut penilaian menurut SFAC no 5 ada tiga macam, yaitu historical cost, current cost atau replacement cost dan net realizable value atau harga jual atau current market.
a. Historical cost
Dalam historical cost nominal yang ada disesuaikan dengan daya beli. Misalnya nilai Rp 1.000 disesuaikan dengan angka indeks yang menunjukkan 120. Jadi (120/100) x Rp 1.000.
b. Current cost
    Dalam current cost disesuaikan dengan nominal. Current cost berhubungan dengan peningkatan harga secara spesifik atau karena selera, teknologi dan indeks harga khusus. Misalnya berapa harga beli laptop yang dibeli 5 tahun lalu dengan harga beli laptop yang sama sekarang.
c. Net Realizable Value
    Dalam net realizable value, akun non moneter seperti asset disesuaikan dengan rupiah daya beli. Moneter sudah merepresentasikan daya beli seperti kas dan piutang.
 Sedangkan skala pengukurannya menggunakan rupiah nominal dan rupiah daya beli. Rupiah nominal adalah nilai nominal yang terdapat dalam kas atau setara kas. Sedangkan rupiah daya beli adalah nilai tukar atau kemampuan daya beli dari kas atau setara kas tersebut. Misalnya uang Rp 1000 pada tahun 2010 dapat ditukar dengan 10 bungkus permen. Sedangkan di tahun 2013 uang Rp 1000 hanya dapat ditukar dengan 7 bungkus permen. Jadi dalam hal ini, rupiah daya beli uang tersebut menurun. Dalam akuntansi konvensional mengasumsikan nilai rupiah konstan. Artinya nilai rupiah dari tahun ke tahun tetap. Sehingga dapat berakibat overestimate terhadap nilai harta. Sedangkan akuntansi inflasi mengatasi dampak perubahan harga tersebut. Namun keunggulan akuntansi konvensional adalah objektif dan datanya dapat diandalkan atau terandalkan. Dampak rupiah daya beli terhadap
a. Moneter : dampak untung atau rugi daya beli tidak tampak tetapi melekat dalam asset. Misalnya hutang 15 tahun kalau inflasi di tahun ke 15 justru utang tersebut dapat terjadi untung. Dalam kondisi inflasi, menahan set moneter akan timbul kerugian. Sedangkan hutang akan menimbulkan keuuntungan.
b. Non moneter : dampak untung atau rugi penahanan disebut sebagai holding gain atau loss dapat terlihat. Contohnya investasi asset seperti saham jangka panjang harga tidak naik, tetapi mempunyai 1000 lembar saham nominal Rp 1000, senilai Rp 1.000.000. Nilai Rp1.000.000 sekarang dengan 5 tahun kemudian berbeda, walaupun lembar saham yang dimiliki dan nilai nominal saham tidak berubah. Makan hal ini akan timbul rugi penahanan.  

                       
                Drs. Ainun Na’im, Ak  “Akuntansi Inflasi”
Oleh : Anita Kurniawati (20110420296) Kelas D